Kami tidak hanya melayani rental mobil harian, tetapi juga mingguan dan bulanan. Kendaraan yang kami sediakan adalah keluaran terbaru dengan berbagai merek dan type, seperti Innova, Toyota Avanza, Kijang LGX, Mitsubishi Kuda dan sebagainya. Bila anda datang dari luar Sumbar dan butuh dijemput ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM), kami juga dengan senang hati menjemput dan mengantar kembali ke bandara, jam berapapun anda inginkan. Itu semua adalah bentuk pelayanan dari kami.
Hayo, tunggu apalagi. Hubungi kami segera ke (0751) 7859550, Faks. (0751) 36881.
Anda juga bisa kontak langsung ke 08126618033 atau 085669147273. Atau anda ingin komunikasi melalaui email? Kirim pesan anda ke email kami; dhilla_rental@yahoo.co.id Apapun keinginan anda, akan kami layani demi kepuasan anda.
Kami akan datang dengan senyum menjemput dan mengantar kemanapun tujuan anda. Keselamatan anda selalu kami utamakan.
Manager
ADE
-
Alquran Cetak Pertama di Indonesia Diterbitkan di Bukittinggi

Bukittinggi merupakan salah satu kota di Sumatera Barat dengan sejuta kisah bernuansa sejarah yang mewarnai perjalanan bangsa ini. Bahkan Bukittinggi pernah memegang peran penting sebagai ibukota darurat Republik Indonesia saat Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Jam Gadang, yang telah terkenal ke seantero dunia, dan telah berdiri sejak zaman kolonial Belanda, juga berasal dari Kota Bukittinggi yang hingga kini masih berdiri dengan kokohnya dan menjadi salah satu ikon pariwisata.
Namun, dari sekian banyak lintasan sejarah di Kota Bukittinggi, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa kota berhawa sejuk itu juga memiliki sejarah yang panjang terkait bidang keagamaan. Di Bukittinggilah kitab suci Al Quran dicetak dengan menggunakan mesin cetak canggih pada zamannya untuk pertama kali di Indonesia. Dan sejak saat itu pula Al Quran cetak semakin mudah didapatkan oleh masyarakat karena telah diproduksi secara massal oleh Percetakan Islamiyah hingga ratusan eksemplar.
Pemilik percetakan itu adalah HMS Soeleman (1879-1971), seorang warga Bukittinggi keturunan Arab. Dibantu oleh karyawannya yang berkebangsaan Jepang, Soeleman mulai merintis mencetak Al Quran dengan diawali membuat film (klise) yang terbuat dari logam kuningan antara tahun 1935-1940. Mesin cetak yang akan digunakan untuk mencetak Al Quran itu kemudian didatangkan khusus oleh Soeleman langsung dari Belanda. Ternyata, mesin cetak yang canggih pada masa itu tidak tersedia di Belanda sehingga harus dipesan pula ke Jerman. Meski demikian, setelah beberapa waktu akhirnya mesin cetak itu sampai juga dengan selamat di Kota Bukittinggi.
Menurut penuturan putra kandung HMS Soeleman, Prof. Dr.H. Mahyuddin Soeleman, Sp.OG(K) kepada Haluan, Selasa (8/9) kemarin, masing-masing klise itu dibuat per halaman, sehingga untuk satu eksemplar Al Quran dibutuhkan hingga sekitar 500 buah klise kuningan. Ukuran klise itu setara dengan ukuran halaman Al Quran yang sebenarnya. Dari lembaran klise yang konon kabarnya didatangkan langsung dari negeri Arab itu kemudian dibuat cetakannya oleh orang Jepang untuk selanjutnya dicetak secara massal oleh Percetakan Islamiyah yang berlokasi di Jalan Syekh Bantam, Bukittinggi.
Ketika masa penjajahan Jepang masuk ke Bukittinggi pada tahun 1942, hampir semua tokoh masyarakat dan tokoh agama ditangkapi oleh militer Jepang. Tujuannya untuk meredam dan mencegah perlawanan yang mungkin muncul dari warga setempat terhadap Jepang. Termasuk di antara yang ditangkap itu adalah HMS Soeleman. Namun, selang dua hari sejak ditangkap, Soeleman kemudian dibebaskan dari tahanan. Usut punya usut, yang membebaskan Soeleman itu adalah salah satu komandan militer Jepang yang memegang peran penting di Kota Bukittinggi. Ternyata, komandan Jepang yang membebaskan Soeleman itu adalah bekas karyawannya dulu yang bekerja membuat klise cetak Al Quran.
Dari kejadian itu Soeleman kemudian menarik kesimpulan bahwa jauh sebelum Jepang mendaratkan kakinya di Bukittinggi, mata-mata Jepang telah lebih dulu bekerja di kota itu dan memberikan informasi penting kepada pemerintah Jepang pusat. Dan tak disangka, ternyata orang yang bekerja padanya diduga adalah mata-mata Jepang yang sebenarnya menjabat komandan militer Jepang.
Hingga tahun-tahun selanjutnya, percetakan Islamiyah milik HMS Soeleman itu kemudian terus beroperasi mencetak ratusan ribu eksemplar Al Quran untuk disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Selain mencetak Al Quran, Percetakan Islamiyah juga mencetak berbagai macam buku lainnya terutama buku-buku keagamaan. Sejak Percetakan Islamiyah berhenti beroperasi sekitar tahun 1960an, mesin cetak asal Jerman itu juga berhenti memproduksi Al Quran dan buku-buku lainnya.
Namun demikian, menurut Mahyuddin Soeleman, yang juga berprofesi sebagai dokter spesialis Obstetric Ginekologi (Kandungan), hingga saat ini mesin cetak yang sempat terkenal pada zamannya itu tetap terawat meski tidak lagi bekerja. Demikian pula dengan ratusan lembar klise Al Quran, masih tetap bersih terjaga berkat perawatan yang dilakukan terus menerus.
Rencananya, kata Mahyuddin, mesin cetak yang memiliki nilai sejarah tinggi berikut ratusan lembar klise kuningan itu akan disumbangkan ke pihak museum, sehingga menjadi asset sejarah yang tak ternilai. Sehingga, hal itu bisa diketahui dan menjadi pembelajaran bagi generasi muda zaman sekarang. Sekaligus menjadi kebanggan pula bagi masyarakat Sumatera Barat bahwa Kota Bukittinggi pernah mencatatkan dirinya dalam tinta emas sejarah bangsa sebagai kota pertama yang melakukan percetakan Al Quran secara massal di Indonesia. (Ahmad)



















0 komentar: